• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jumat, Februari 13, 2026
  • Login
panggungpolitik.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Isuutama
  • Ekonomi
  • Pangan
  • Hits
  • Contact
  • Home
  • Isuutama
  • Ekonomi
  • Pangan
  • Hits
  • Contact
No Result
View All Result
panggungpolitik.com
No Result
View All Result
Home News

Local Wisdom Governance, Inovasi Korlantas Bangun Budaya Tertib

admin by admin
13 Februari 2026
in News
0 0
0
Kakorlantas Dorong Restorative Justice Lewat Penguatan Induk PJR
Share on FacebookShare on Twitter

Di bawah kepemimpinan Agus Suryonugroho, Korps Lalu Lintas Polri menghadirkan paradigma baru dalam pengelolaan keamanan lalu lintas nasional. Pendekatan yang dikedepankan tidak lagi semata bertumpu pada penindakan pelanggaran, melainkan menempatkan komunikasi sosial sebagai fondasi pencegahan konflik. Strategi ini dikenal sebagai praktik Local Wisdom Governance, yakni tata kelola berbasis kearifan lokal yang mengutamakan dialog, empati, dan kedekatan dengan masyarakat.

Konsep tersebut lahir dari kesadaran bahwa keselamatan jalan raya tidak cukup dibangun melalui aturan dan sanksi. Relasi sosial yang sehat antara aparat dan pengguna jalan dinilai lebih efektif dalam menciptakan kepatuhan jangka panjang. Melalui arahan Irjen Agus, personel lalu lintas didorong untuk aktif menyapa, berdialog, serta memahami karakter masyarakat di setiap wilayah tugasnya. Menyapa dipandang sebagai langkah sederhana, namun memiliki dampak besar dalam membangun rasa percaya.

Implementasinya terlihat dalam berbagai pola pendekatan yang disesuaikan dengan budaya setempat. Di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, komunikasi persuasif dilakukan dengan bahasa santun dan dialogis. Sementara di Sumatera Barat, pendekatan musyawarah lebih diutamakan ketika menghadapi potensi ketegangan di titik kepadatan kendaraan. Model ini menunjukkan bahwa modernisasi sistem lalu lintas tetap dapat berjalan berdampingan dengan sentuhan sosial yang kontekstual.

Indonesia memang terus mengembangkan teknologi penegakan hukum berbasis elektronik. Namun demikian, kepemimpinan Irjen Agus menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh menghilangkan interaksi manusiawi antara aparat dan masyarakat. Teknologi berfungsi sebagai alat bantu, sedangkan hubungan sosial menjadi penentu stabilitas di lapangan.

Salah satu contoh konkret strategi ini adalah program ojol kamtibmas. Di berbagai daerah, komunitas ojek online dilibatkan sebagai mitra aktif dalam menjaga ketertiban lalu lintas. Di Jakarta, misalnya, Polda Metro Jaya membentuk komunitas ojol kamtibmas yang berperan sebagai penghubung informasi sekaligus saluran aspirasi pengemudi. Program ini membuka ruang komunikasi dua arah antara aparat dan komunitas transportasi daring.

Inovasi serupa juga berkembang di Kalimantan Timur melalui program Kedai Ojol Kamtibmas dan Bengkel Ojol Kamtibmas. Dalam forum tersebut, pengemudi dapat berdialog langsung dengan petugas sembari menikmati layanan servis ringan. Skema ini memperkuat jejaring kepercayaan sekaligus memperkaya data sosial yang dibutuhkan dalam perumusan kebijakan keselamatan.

Transformasi ini menegaskan bahwa ketegasan dan empati bukan dua kutub yang saling bertentangan. Justru, pendekatan humanis memperkuat legitimasi penegakan hukum karena masyarakat merasa dilibatkan, bukan sekadar diawasi. Dengan strategi preventif berbasis komunikasi interpersonal, resistensi terhadap kebijakan dapat ditekan, partisipasi publik meningkat, serta pola kepatuhan tumbuh dari kesadaran kolektif.

Kinerja Korlantas di bawah kepemimpinan Irjen Agus menunjukkan bahwa keamanan lalu lintas dapat dibangun melalui kolaborasi sosial yang adaptif. Masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai mitra strategis dalam menciptakan ruang jalan yang aman dan tertib. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa tata kelola berbasis kearifan lokal mampu memperkuat stabilitas sekaligus membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan.

Tags: KakorlantasKorlantas
admin

admin

Next Post
Kakorlantas di Grand Opening Lepas Showroom

Strategi Kakorlantas Bangun Kepercayaan Publik Lewat Polantas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect with us

  • 138 Followers
  • 23.9k Followers
  • Trending
  • Comments
  • Latest

Lance Armstrong Is Facing a $100 Million Lawsuit From the U.S. Government

3 November 2025

Super Bowl 2017: Here’s How Many People Watched the Super Bowl

5 November 2025

Matthew Wade says concussion substitute rule ‘needs to be looked at’

31 Oktober 2025

‘Dybala is the new Messi and worth €150m’ – Zamparini hails Juventus forward

29 Oktober 2025

Why the 2017 F1 rule changes will not level the playing field

0

Burnley v Lincoln City Betting: Clarets set for more cup joy on home soil

0

Orlando City provides Jason Kreis a chance at redemption – will he take it?

0

Why F1 must fight to restore the Nürburgring to the calendar

0
Kakorlantas di Grand Opening Lepas Showroom

Strategi Kakorlantas Bangun Kepercayaan Publik Lewat Polantas

13 Februari 2026
Kakorlantas Dorong Restorative Justice Lewat Penguatan Induk PJR

Local Wisdom Governance, Inovasi Korlantas Bangun Budaya Tertib

13 Februari 2026
Kepemimpinan dalam institusi kepolisian tidak semata-mata diukur dari jumlah kebijakan yang dikeluarkan, melainkan dari nilai-nilai yang mampu diwariskan dan bertahan dalam jangka panjang. Kepemimpinan yang bermakna adalah kepemimpinan yang sanggup menanamkan perubahan mendasar—ketika sebuah gagasan tidak berhenti sebagai program, tetapi tumbuh menjadi budaya organisasi. Prinsip inilah yang menjadi landasan lahirnya Polantas Menyapa dan Melayani 2026, sebuah inisiatif strategis Korps Lalu Lintas Polri di bawah kepemimpinan Kakorlantas Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. Di tengah dinamika lalu lintas yang kian kompleks, Korlantas Polri menegaskan bahwa upaya mewujudkan keselamatan jalan raya tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, sistem pengawasan, maupun penegakan hukum. Keselamatan membutuhkan pendekatan yang berorientasi pada manusia—kepemimpinan yang menempatkan pelayanan sebagai nilai inti dalam setiap tindakan. Berbagai pengalaman internasional menunjukkan bahwa reformasi kepolisian kerap gagal bertahan karena terjebak pada pendekatan berbasis proyek. Ketika kepemimpinan berganti, program pun ikut berhenti. Menyadari hal tersebut, Polantas Menyapa dan Melayani dirancang bukan sebagai agenda temporer, melainkan sebagai filosofi kerja yang melekat pada cara berpikir dan bertindak setiap personel. “Yang kami bangun bukan hanya sebuah program, melainkan cara pandang,” ujar Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. Pernyataan ini mencerminkan arah kepemimpinan yang berfokus pada transformasi pola pikir organisasi. Dalam konteks ini, menyapa bukanlah simbol semata, tetapi pintu masuk untuk membangun relasi yang sehat dan setara antara Polantas dan masyarakat. Polantas Menyapa dan Melayani 2026 dirancang agar melampaui siklus kebijakan tahunan. Nilai menyapa dan melayani diintegrasikan ke dalam pelatihan, standar kerja, serta praktik lapangan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, budaya pelayanan tidak bergantung pada figur pimpinan, melainkan tertanam dalam sistem dan perilaku organisasi. Pendekatan tersebut sejalan dengan praktik global seperti service-oriented policing, procedural justice, dan trust-based policing. Namun, implementasinya tetap disesuaikan dengan konteks Indonesia, yang menjunjung tinggi nilai empati, gotong royong, dan musyawarah. Perpaduan antara standar internasional dan kearifan lokal ini menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun model pelayanan lalu lintas yang adaptif sekaligus membumi. Di ruang publik seperti jalan raya, kehadiran negara tercermin dari sikap dan tindakan aparatnya. Setiap interaksi Polantas dengan pengguna jalan membentuk persepsi masyarakat terhadap negara. Oleh karena itu, pendekatan yang menekankan pelayanan memiliki dampak strategis terhadap tingkat kepercayaan publik. Ketika kepercayaan terbangun, kepatuhan tidak lagi muncul karena rasa takut terhadap sanksi, melainkan karena kesadaran dan rasa dihargai. “Kami ingin membangun kepercayaan jangka panjang, bukan kepatuhan sesaat,” tegas Kakorlantas Polri. Polantas Menyapa dan Melayani 2026 dirancang sebagai legacy kepemimpinan yang menempatkan kepercayaan publik sebagai fondasi keselamatan lalu lintas nasional. Ketika nilai melayani telah menjadi budaya, Polantas akan tetap hadir secara humanis dan profesional, apa pun tantangan yang dihadapi di masa depan. Inilah esensi kepemimpinan berkelanjutan: menyapa hari ini untuk menjaga masa depan.

Teknologi ETLE Drone Perkuat Penegakan Hukum Lalu Lintas

12 Februari 2026
Rakor PPID 2026 memperkuat mediahub polri dengan dukungan PT Qudo Buana Nawakara untuk transformasi informasi publik

PT Qudo Buana Nawakara dan Mediahub Polri Bangun Ekosistem Informasi Terintegrasi

12 Februari 2026

Recommended

Kakorlantas di Grand Opening Lepas Showroom

Strategi Kakorlantas Bangun Kepercayaan Publik Lewat Polantas

13 Februari 2026
Kakorlantas Dorong Restorative Justice Lewat Penguatan Induk PJR

Local Wisdom Governance, Inovasi Korlantas Bangun Budaya Tertib

13 Februari 2026
Kepemimpinan dalam institusi kepolisian tidak semata-mata diukur dari jumlah kebijakan yang dikeluarkan, melainkan dari nilai-nilai yang mampu diwariskan dan bertahan dalam jangka panjang. Kepemimpinan yang bermakna adalah kepemimpinan yang sanggup menanamkan perubahan mendasar—ketika sebuah gagasan tidak berhenti sebagai program, tetapi tumbuh menjadi budaya organisasi. Prinsip inilah yang menjadi landasan lahirnya Polantas Menyapa dan Melayani 2026, sebuah inisiatif strategis Korps Lalu Lintas Polri di bawah kepemimpinan Kakorlantas Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. Di tengah dinamika lalu lintas yang kian kompleks, Korlantas Polri menegaskan bahwa upaya mewujudkan keselamatan jalan raya tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, sistem pengawasan, maupun penegakan hukum. Keselamatan membutuhkan pendekatan yang berorientasi pada manusia—kepemimpinan yang menempatkan pelayanan sebagai nilai inti dalam setiap tindakan. Berbagai pengalaman internasional menunjukkan bahwa reformasi kepolisian kerap gagal bertahan karena terjebak pada pendekatan berbasis proyek. Ketika kepemimpinan berganti, program pun ikut berhenti. Menyadari hal tersebut, Polantas Menyapa dan Melayani dirancang bukan sebagai agenda temporer, melainkan sebagai filosofi kerja yang melekat pada cara berpikir dan bertindak setiap personel. “Yang kami bangun bukan hanya sebuah program, melainkan cara pandang,” ujar Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. Pernyataan ini mencerminkan arah kepemimpinan yang berfokus pada transformasi pola pikir organisasi. Dalam konteks ini, menyapa bukanlah simbol semata, tetapi pintu masuk untuk membangun relasi yang sehat dan setara antara Polantas dan masyarakat. Polantas Menyapa dan Melayani 2026 dirancang agar melampaui siklus kebijakan tahunan. Nilai menyapa dan melayani diintegrasikan ke dalam pelatihan, standar kerja, serta praktik lapangan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, budaya pelayanan tidak bergantung pada figur pimpinan, melainkan tertanam dalam sistem dan perilaku organisasi. Pendekatan tersebut sejalan dengan praktik global seperti service-oriented policing, procedural justice, dan trust-based policing. Namun, implementasinya tetap disesuaikan dengan konteks Indonesia, yang menjunjung tinggi nilai empati, gotong royong, dan musyawarah. Perpaduan antara standar internasional dan kearifan lokal ini menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun model pelayanan lalu lintas yang adaptif sekaligus membumi. Di ruang publik seperti jalan raya, kehadiran negara tercermin dari sikap dan tindakan aparatnya. Setiap interaksi Polantas dengan pengguna jalan membentuk persepsi masyarakat terhadap negara. Oleh karena itu, pendekatan yang menekankan pelayanan memiliki dampak strategis terhadap tingkat kepercayaan publik. Ketika kepercayaan terbangun, kepatuhan tidak lagi muncul karena rasa takut terhadap sanksi, melainkan karena kesadaran dan rasa dihargai. “Kami ingin membangun kepercayaan jangka panjang, bukan kepatuhan sesaat,” tegas Kakorlantas Polri. Polantas Menyapa dan Melayani 2026 dirancang sebagai legacy kepemimpinan yang menempatkan kepercayaan publik sebagai fondasi keselamatan lalu lintas nasional. Ketika nilai melayani telah menjadi budaya, Polantas akan tetap hadir secara humanis dan profesional, apa pun tantangan yang dihadapi di masa depan. Inilah esensi kepemimpinan berkelanjutan: menyapa hari ini untuk menjaga masa depan.

Teknologi ETLE Drone Perkuat Penegakan Hukum Lalu Lintas

12 Februari 2026
Rakor PPID 2026 memperkuat mediahub polri dengan dukungan PT Qudo Buana Nawakara untuk transformasi informasi publik

PT Qudo Buana Nawakara dan Mediahub Polri Bangun Ekosistem Informasi Terintegrasi

12 Februari 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Copyright PanggungPolitik Team All Rights Reserved
No Result
View All Result
  • Home
  • Isuutama
  • Ekonomi
  • Pangan
  • Hits
  • Contact

Copyright PanggungPolitik Team All Rights Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In