Arus mudik pada hari kedua pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 terpantau berjalan lancar dan terkendali di sejumlah jalur utama. Kepolisian mencatat peningkatan volume kendaraan yang bergerak keluar dari Jakarta menuju wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, namun kondisi lalu lintas secara keseluruhan masih berada dalam situasi aman dan kondusif.
Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo,, setelah melakukan pemantauan arus kendaraan melalui jalur udara dari Jakarta hingga KM 29 Tol Jakarta–Cikampek. Selain itu, ia juga melakukan koordinasi langsung dengan pusat kendali lalu lintas yang memantau pergerakan kendaraan di jalur utama Jakarta–Cikampek hingga jalur menuju Cirebon serta perbatasan Jawa Timur di wilayah Ngawi.
Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, arus kendaraan yang melintas di sejumlah ruas tol utama masih dapat dikendalikan dengan baik. Meski jumlah kendaraan terus bertambah seiring mendekati puncak arus mudik, pengaturan lalu lintas yang telah dirancang sebelumnya dinilai mampu menjaga kelancaran perjalanan para pemudik.
“Secara umum arus lalu lintas pada H+2 Operasi Ketupat berada dalam kondisi sangat lancar. Volume kendaraan memang mulai meningkat, tetapi pergerakan kendaraan tetap terkendali berkat manajemen lalu lintas yang terencana,” ujar Komjen Dedy Prasetyo.
Untuk memastikan arus kendaraan tetap berjalan lancar, kepolisian menerapkan sejumlah langkah strategis, salah satunya melalui pengaturan kendaraan berat. Kendaraan sumbu tiga dialihkan dari jalur tol menuju jalur arteri di wilayah Cilegon menuju Pelabuhan Merak. Kebijakan ini dilakukan agar kapasitas jalur tol dapat dimaksimalkan bagi kendaraan pribadi yang digunakan masyarakat untuk mudik.
Selain pengaturan kendaraan berat, kepolisian juga menyiapkan berbagai skema rekayasa lalu lintas yang bersifat situasional. Rekayasa tersebut meliputi sistem contraflow maupun one way yang akan diberlakukan berdasarkan hasil analisis data lalu lintas secara real-time dari pusat kendali.
“Penerapan rekayasa lalu lintas tidak dilakukan secara mendadak. Contraflow biasanya sudah kami siapkan hingga tiga jam sebelumnya berdasarkan analisis data di Command Center,” jelas Wakapolri.
Ia menambahkan bahwa penerapan sistem satu arah atau one way akan segera dilakukan apabila volume kendaraan mencapai ambang tertentu. Kebijakan ini diambil sebagai langkah preventif untuk mencegah terjadinya kemacetan yang dapat mengganggu perjalanan masyarakat yang melakukan mudik.
“Apabila volume kendaraan mencapai 6.000 kendaraan per jam, maka sistem one way akan segera diberlakukan untuk menjaga kelancaran arus dan mencegah terjadinya kepadatan yang berpotensi mengganggu perjalanan pemudik,” ujarnya.
Pada pelaksanaan Operasi Ketupat tahun ini, kepolisian juga memperkuat sistem pemantauan lalu lintas melalui pemanfaatan teknologi modern. Berbagai perangkat digital digunakan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan sekaligus mempercepat respons terhadap potensi gangguan di lapangan.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah drone pemantau lalu lintas. Kepolisian mengoperasikan dua jenis drone, yakni drone monitoring yang berfungsi memantau kondisi lalu lintas di titik-titik yang tidak terjangkau kamera pengawas, serta drone ETLE yang mampu melakukan penindakan pelanggaran lalu lintas secara elektronik.
Penggunaan teknologi tersebut memberikan sejumlah manfaat bagi masyarakat, mulai dari kemampuan mendeteksi potensi kemacetan secara dini, mempercepat respons petugas terhadap insiden lalu lintas, hingga meningkatkan keselamatan perjalanan para pemudik.
Selain drone, seluruh personel patroli yang bertugas di lapangan juga telah dibekali kamera pengawas atau bodycam. Perangkat ini terpasang pada kendaraan patroli roda dua maupun roda empat sehingga memungkinkan pemantauan kondisi lapangan secara langsung dari pusat kendali.
Menurut Wakapolri, kesiapan pengamanan arus mudik tahun ini dinilai jauh lebih matang dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari dukungan teknologi Command Center Mobile yang mampu memantau dinamika lalu lintas secara lebih fleksibel serta mengintegrasikan berbagai sumber data dari lapangan.
“Situasi kamtibmas dalam kondisi sangat kondusif. Tahun ini pengelolaan arus mudik jauh lebih siap dengan dukungan teknologi Command Center Mobile serta personel yang dibekali perangkat pengawasan modern,” tegas Komjen Dedy Prasetyo.
Ke depan, kepolisian bersama berbagai pemangku kepentingan akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan arus mudik hingga perayaan Lebaran berlangsung. Sinergi antarinstansi, penerapan rekayasa lalu lintas yang terukur, serta dukungan teknologi modern menjadi kunci dalam menjaga kelancaran mobilitas masyarakat.
“Tujuan utama kami adalah memastikan masyarakat dapat melakukan perjalanan mudik dengan aman dan kembali berkumpul bersama keluarga dalam suasana yang penuh kebahagiaan,” pungkas Wakapolri.











